Beranda / Akhir Zaman / Tamim Ad-Daari Sahabat yang Berjumpa dengan Dajjal

Tamim Ad-Daari Sahabat yang Berjumpa dengan Dajjal

perahu terombang ambingBUMISYAM | Tamin bin Aus ad Daari, nama kunyahnya Abu Ruqayyah, tetapi lebih dikenal dengan nama Tamim ad Daari, adalah seorang pendeta dan ahli ibadah yang terkenal dalam agama Nashrani, ia tinggal di Palestina.

Sebenarnya ia telah mendengar tentang diutusnya Nabi Salallahu ‘alaihi wasallam sebagai Rasul Terakhir sebagaimana diramalkan dalam Taurat dan Injil, tetapi ia belum tergerak untuk memeluk agama Islam, sampai ia mengalami suatu peristiwa aneh dan menarik, sekaligus menakutkan yang membawanya untuk memperoleh hidayah dan memeluk Islam.

Ketika dalam suatu perjalanan mengarungi lautan di sekitar laut Yaman atau sekitar laut Syam, kapalnya mengalami kerusakan sehingga ia terombang-ambing tanpa arah yang pasti. Tidak tanggung-tanggung, selama sebulan penuh ia dipermainkan ombak, beserta sekitar tigapuluh orang penumpang dan awak kapal, yang kebanyakan dari mereka berpenyakit kulit dan lepra. Tiba-tiba mereka terdampar di sebuah pulau di arah matahari terbenam, suatu pulau yang mereka semua tidak tahu pasti di mana tempat kedudukannya.

Mereka menepi dengan sebuah sampan kecil dan memasuki pulau tersebut. Tiba-tiba mereka dikejutkan dengan munculnya binatang yang berbulu sangat tebal, sehingga tidak diketahui mana bagian kepalanya dan mana bagian ekornya. Tamim sempat berkata kepada binatang tersebut, tentunya tanpa mengharapkan jawaban apa-apa, terlontar begitu saja karena rasa terkejut, “Apakah kamu ini?”

Tetapi sungguh mengejutkan, ternyata binatang tersebut memberikan jawaban, “Saya adalah al Jassasah..!!”

“Apakah al Jassasah itu?” Tanya Tamim.

Binatang tersebut mengabaikan pertanyaan mereka dan justru berkata, “Wahai kaum, pergilah kalian kepada orang yang berada di dalam biara di sana, karena sesungguhnya ia sangat merindukan berita dari kalian…!!”

Tak jauh dari pantai tersebut memang tampak sebuah bangunan yang menempel pada dinding gunung, yang sebenarnya lebih tepat disebut sebagai gua daripada biara. Mendengar penuturan tersebut, mereka segera berlalu menjauhi binatang aneh yang menakutkan tersebut. Mereka berfikir, binatang tersebut adalah syaitan atau penjelmaan syaitan.

Mereka bergegas memasuki gua, tetapi sekali lagi mereka mendapati pemandangan mengejutkan. Seorang lelaki tinggi besar dan sangat tegap tubuhnya tampak terbelenggu pada dinding gua. Kedua tangannya terikat dengan rantai besar ke kuduknya. Antara kedua lutut dan dua mata kakinya terdapat rantai besar yang membelenggunya sehingga ia tidak mungkin keluar dari gua tersebut. Tamim dan teman-temannya bertanya, “Siapakah engkau ini??”

Seperti halnya binatang yang mengaku bernama Jassasah tadi, lelaki tinggi besar tersebut tidak mau membuka hakikat dirinya. Tetapi ia berkata, “Kalian telah mengetahui keadaanku seperti ini, karena itu beritahukanlah kepadaku, siapakah kalian ini?”

“Kami adalah orang-orang dari Arab…” Kata Tamim ad Daari.

Kemudian Tamim menceritakan keadaan mereka sejak terkatung-katung di lautan, sampai akhirnya terdampar di pantai, bertemu binatang yang mengaku bernama al Jassasah, dan menyuruhnya untuk menemui seorang  lelaki di dalam biara atau gua tersebut. Tamim menutup ceritanya dengan berkata, “Kami bergegas meninggalkan dia (al Jassasah) dan menemui engkau karena kami merasa tidak aman, jangan-jangan dia itu syaitan..!!”

Lelaki tersebut tidak banyak menanggapi cerita Tamim, ia justru berkata, “Beritahukanlah kepadaku tentang desa Nakhl Baisan!”

Nakhl Baisan adalah sebuah negeri yang terkenal di dekat Syam lama, dan termasuk dalam wilayah Palestina. Tamim berkata, “Tentang apanya yang ingin engkau ketahui?”

“Tentang kurmanya, apa berbuah?”

“Ya, masih berbuah!!” Kata Tamim.

“Ketahuilah, sesungguhnya tidak lama lagi kurma-kurma tersebut akan tidak berbuah lagi..!!” Kata lelaki tersebut.

Sesaat kemudian lelaki tersebut berkata, “Beritahukanlah kepadaku tentang danau ath Thabariyah..!!”

Danau ath Thabariyah adalah sebuah danau besar yang terletak sekitar 150 km dari Baitul Maqdis. Lebarnya sekitar 10 km dan panjangnya sekitar 15 km, airnya tawar manis dan cukup banyak ikannya sehingga menjadi sumber penghidupan masyarakat sekitarnya. Danau ini cukup dalam dan dapat dilayari kapal, tetapi makin hari airnya makin berkurang. Tamin bertanya kepada lelaki tersebut, “Tentang apanya yang ingin engkau ketahui?”

“Apakah masih ada airnya?”

“Ya, airnya banyak sekali!!”

“Ketahuilah, bahwa airnya akan berangsur berkurang dan akhirnya akan habis..!!” kata lelaki tersebut.

Kemudian ia bertanya lagi, “Beritahukanlah kepadaku tentang mata air azh Zughar!!”

“Tentang apanya yang ingin engkau ketahui?”

“Apakah sumbernya memancarkan air yang bisa digunakan penduduknya untuk menyiram tananamnya?”

“Benar,” Kata Tamim, “Airnya sangat banyak dan penduduk sekitarnya menggunakannya untuk bercocok tanam.”

Lelaki tersebut bertanya lagi, “Beritahukanlah kepadaku tentang Nabi yang ummi, apa yang dilakukannya..!!”

Walaupun Tamim dan orang-orang yang bersamanya belum memeluk Islam, tetapi kabar tentang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memang telah menyebar luas, bahkan dakwah Islam juga telah sampai di Syam dan Palestina. Ia menjawab, “Beliau telah berhijrah, meninggalkan kota Makkah pindah ke Yatsrib!!”

“Apakah orang-orang Arab memeranginya?” Tanya lelaki tersebut.

“Ya!!”

“Apakah yang dilakukannya atas mereka?”

“Beliau telah menundukkan orang-orang Arab terdekatnya, sehingga mereka mengikuti dan mematuhinya!!”

“Benarkah seperti itu?” Tanya lelaki itu.

“Benar..!!” Kata Tamim.

“Ketahuilah…” Kata lelaki itu, “Bahwasanya lebih baik bagi mereka untuk mematuhi dan mengikutinya…!!”

Setelah rangkaian panjang pembicaraan tersebut, barulah lelaki tersebut membuka jati dirinya, ia berkata, “Aku akan memberitahukan tentang diriku pada kalian. Aku adalah al Masih dan aku hampir diizinkan untuk keluar (dari tempat ini). Jika aku keluar, aku akan berjalan di muka bumi, aku tidak melewati suatu kampung/negeri kecuali aku akan tinggal di sana selama 40 malam, kecuali kota Makkah dan Thayyibah. Kedua kota tersebut diharamkan atasku. Setiap aku akan memasuki kota tersebut, aku dihadang oleh para malaikat yang membawa pedang, mereka mengancam akan memenggal kepalaku. Setiap celah jalan di kedua kota tersebut dijaga dengan ketat oleh para malaikat…!!”

Tamim dan teman-temannya terperangah kaget dengan pengakuan lelaki tersebut sebagai al Masih. Bagi  Tamim ad Daari yang seorang pendeta dan cukup menguasai injil, nama al Masih tentulah tidak asing. Hanya ada dua al Masih, yakni al Masih Isa ibnu Maryam dan al Masih ad Dajjal. Setiap Nabi dan Rasul selalu mengingatkan umatnya akan bahaya dan fitnah terbesar dari al Masih ad Dajjal ini, termasuk junjungan kita Nabi Muhammad Salallahu ‘alaihi wasallam.

Bahkan beliau mengajarkan suatu doa perlindungan, yang disunnahkan dibaca pada sujud terakhir atau setelah takhiyat akhir sebelum mengucap salam dari setiap shalat fardhu yang kita lakukan, yaitu sbb. : “Allaahumma innii a’uudzubika min ‘adzaabil qabri, wamin ‘adzaabin naar, wamin fitnatil mahyaa wal mamaat, wamin fitnatil masiikhad dajjaal.”

Artinya adalah : “Ya Allah, sesungguhnya saya berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, dan dari siksa api neraka, dan dari fitnahnya kehidupan dan kematian, serta dari fitnahnya al masiih ad dajjal.”

Dalam pemikiran Tamim, kalau al Masih Isa ibnu Maryam telah wafat di tiang salib, begitu menurut kepercayaannya sebagai seorang Nashrani saat itu, tentulah lelaki tinggi besar dan kekar di depannya ini adalah al Masih  ad Dajjal, yang akan menjadi fitnah terbesar di akhir zaman, begitu kesimpulan yang diambil oleh Tamim ad Daari.  Karena itu segera saja ia mengajak teman-temannya untuk meninggalkan pulau tersebut. Walau dalam keadaan terbelenggu saat itu, ia khawatir sang Dajjal tersebut akan menimbulkan bahaya bagi diri dan teman-temannya.

Setelah keluar dari pulau tersebut dan kembali mengarungi lautan lepas, perahu yang ditumpanginya mendapat pertolongan dari perahu lain dan akhirnya bisa pulang ke tempat asalnya di Palestina.

Tamim merenungi segala peristiwa yang dialaminya, khususnya pertemuan dengan seorang lelaki yang mengaku sebagai al Masih ad Dajjal di dalam gua di suatu pulau terpencil di tengah samudra, yang ia belum tentu bisa menemukan pulau itu lagi. Satu “nasehat” dari Sang Dajjal yang cukup melekat di benaknya, yakni : “Ketahuilah, bahwasanya lebih baik bagi mereka untuk mematuhi dan mengikutinya…!!”

Akhirnya ia memutuskan untuk mengikuti “nasehat” tersebut. Ia menyiapkan tunggangan dan perbekalan secukupnya kemudian memacunya mengarungi samudra pasir menuju Madinah. Setelah beberapa hari berjalan, ia sampai di Madinah dan segera menemui Nabi Salallahu ‘alaihi wasallam untuk berba’iat memeluk Islam. Ia juga menceritakan semua pengalamannya ketika terombang-ambing di lautan, sampai kemudian bertemu dengan Dajjal, yang akhirnya membawanya kepada hidayah untuk memeluk Islam tersebut.

Keesokan harinya, setelah shalat shubuh, Nabi Salallahu ‘alaihi wasallam berdiri di mimbar, sambil tersenyum beliau bersabda, “Hendaknya setiap orang tetap tinggal di tempat shalatnya. Tahukah kalian, kenapa aku mengumpulkan kalian saat ini?”

“Hanya Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui” Kata para sahabat.

Beliau bersabda lagi, “Sesungguhnya aku, demi Allah, mengumpulkan kalian bukan karena ada pengharapan atau ketakutan, tetapi aku mengumpulkan kalian karena Tamim ad Daari, yang dahulunya seorang Nashrani datang kepadaku untuk berba’iat memeluk Islam. Ia menceritakan kepadaku, seperti yang pernah aku sampaikan kepada kalian tentang  Dajjal…”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian menceritakan pengalaman Tamim ad Daari sejak terombang-ambing di lautan selama  satu bulan sampai akhirnya terdampar di suatu pulau yang dihuni oleh al Masih ad Dajjal. Beliau menceritakannya secara mendetail seperti ketika Tamim menceritakannya kepada beliau.  Setelah sampai pada perkataan Dajjal tentang dua kota, Makkah dan Thayyibah, beliau memukulkan tongkat beliau pada mimbar dan bersabda, “Inilah Thayyibah, inilah Thayyibah, inilah Thayyibah, yakni kota Madinah ini. Bukankah aku telah memberitahukan hal ini kepada kalian?”

“Benar, ya Rasulullah..!!” kata para sahabat.

Kemudian beliau bersabda lagi, “Sungguh cerita Tamim ini sesuai benar dengan apa yang telah aku sampaikan kepada kalian (tentang Dajjal), dan juga tentang kota Makkah dan Madinah. Ketahuilah, Dajjal ini berada di laut Syam atau di laut Yaman…”

Sesaat terdiam, kemudian beliau bersabda lagi, “Oh, tidak!! Tetapi dia akan datang dari arah timur…dari arah timur…dari arah timur…!!” Sambil bersabda tersebut, tangan beliau menunjuk ke arah timur, arah yang jauh di timur.

Peristiwa tersebut seolah menjadi kelebihan bagi Tamim ad Daari. Walaupun ia termasuk sahabat yang memeluk Islam pada masa-masa akhir sehingga hampir tidak pernah terjun dalam medan jihad bersama Rasulullah  Salallahu ‘alaihi wasallam, (sebagian riwayat menyebutkan, ia memeluk Islam pada tahun 9 hijriah) tetapi peristiwa yang dialaminya tersebut seolah menjadi hujjah dan bukti kebenaran dari apa yang disampaikan Nabi Salallahu ‘alaihi wasallam tentang Dajjal. (KBS02/percikkisah.blogspot.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *