Beranda / Pojok Relawan / Keruntuhan Perlahan Dunia Islam dan Tanda Kebangkitan

Keruntuhan Perlahan Dunia Islam dan Tanda Kebangkitan

Oleh : Izzatun Nisa Syahidah

BUMISYAM -Sejak tahun 90-an Indonesia mulai “melek” dengan informasi-informasi mengenai perjuangan sesama saudara Muslim di belahan bumi yang lain. Di dekade tahun tersebut saat informasi masih valid diperoleh dari majalah-majalah atau buku-buku, aktivis dakwah di Indonesia sangat mengakrabi berita-berita perjuangan Muslim di Bosnia, Chechnya, Afganistan, Irak, dan Palestina. Negara terakhir yang disebutkan bahkan masih berkonflik hingga kini dengan Yahudi. Konflik yang entah kapan akan terselesaikan.

Sementara negara-negara lain seperti Bosnia, Chechnya, Afganistan, Irak, sedang terseok-seok membangkitkan diri. Konflik panjang yang terjadi di negara-negara Islam tersebut menjadi catatan betapa Islam menjadi agama yang rentan diberangus.

Bahkan ketika muncul kesadaran penuh dari rakyat-rakyat di beberapa negara Muslim di Timur Tengah seperti Mesir, Tunisia, Libya, Suriah, Bahrain yang memunculkan gelombang kebangkitan di Timur Tengah atau yang disebut dengan Arab Spring sekitar 5 tahun lalu, dengan kekuatan tiran, semua gelombang perlawanan tersebut dihentikan paksa. Baik dengan bantuan musuh Islam di negara yang lain atau dengan tekanan militer.

Negara mayoritas berpenduduk Islam yang masih bertahan dengan kedigdayaannya mungkin hanya Turki yang tetap saja diguncang dengan berbagai isu fitnah.

Lantas, apakah kebangkitan dunia Islam yang digadang-gadang dimulai dengan Arab Spring akan padam begitu saja?

Kita harus secara jelas meyakini bahwa Islam akan bangkit sekali lagi hingga terjadi perang akhir zaman. Optimisme yang harus dibangun setiap Muslim agar tetap berjuang menyebarkan berbagai kebaikan di muka bumi dan memadamkan api kemaksiatan.

“Sebagian umatku ada yang selalu melaksanakan perintah Allah, tak terpengaruh orang yang menggembosi dan tidak pula orang yang berseberangan hingga datang keputusan Allah, dan mereka senantiasa dalam keadaan demikian. Mu’adz berkata: dan mereka ada di Syam.” (HR. Bukhari).

Hingga datang keputusan hancurnya bumi ini, sebagai seorang Muslim kita harus terus berjuang.

Clue sudah diberikan bahwa Syam menjadi titik tolak perjuangan kebangkitan Islam. Maka, tidak usah banyak tanya lagi ketika banyak orang menggembar-gemborkan perjuangan saudara sesama Muslim di Palestina sana. Pentingnya mendoakan mereka dan pentingnya membantu perjuangan mereka semampu kita.

Tidak hanya di Palestina, Syam mencakup pula daerah lain seperti Lebanon, Yordania, dan Suriah.Negara yang terakhir disebutkan sama dengan Palestina, sedang berkonflik.

Perjuangan rakyat yang tadinya ingin membebaskan diri dari belenggu pemerintahan tiran Bashar Al Assad berubah tragedi kemanusian yang memilukan. Bashar Al Assad berbalik membunuhi warga sipil yang melawan pemerintah dan tidak terelakkan lagi bahwa konflik di sana menjadi konflik pemusnahan umat Islam. Konflik yang berlangsung hingga kini membuat warga Suriah menjadi rakyat pengungsi terbesar yang melakukan eksodus tidak hanya lintas negara, tetapi juga lintas benua. Meninggalkan Suriah dengan ibu kota Damaskus yang menjadi basis kekuatan umat Islam di perang akhir zaman nanti, di tangan para mujahid yang tidak lelah berjuang. Meski diterpa fitnah, meski digempur kekuatan yang jauh lebih besar.

Kalau dulu musuh Islam yang tersiar luas dan memang menjadi musuh terberat adalah Yahudi dan yang identik dengan negara barat, kini Syiah telah bergabung melakukan perlawanan terselubung terhadap Islam. Mulai menjadi backing kekuatan Bashar Al Assad, hingga revolusi Iran yang kabarnya sudah masuk ke dalam pemerintahan Lebanon. Secara jelas Menteri Luar Negeri Lebanon menyatakan bahwa Iran dan Lebanon telah memiliki hubungan dan sikap yang semakin dekat.

Yordania menjadi negara yang relatif masih stabil. Keberpihakannya pada perjuangan Palestina dan perlawanan terhadap Yahudi memang masih cukup terlihat jelas. Akan tetapi, tidak dapat dipungkiri bahwa kemoderatan Yordania dengan sistem pemerintahannya berupa kerajaan menjadikan negara yang dipimpin oleh Raja Abdullah II ini dekat dengan dunia barat dan segala hingar bingar sekulerisme.

Dua negara yang sedang berkonflik dan dua negara yang masih disetir dengan banyak kepentingan duniawi. Maka, bersandarlah hanya pada Allah ta’ala. Setiap kita mempunyai kewajiban untuk turut serta dalam kebangkitan Islam, termasuk membantu perjuangan sesama Muslim di bumi Syam.

Allahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *