Beranda / Pojok Relawan / Bom Thamrin dan Pesan Kemanusiaan dari Suriah

Bom Thamrin dan Pesan Kemanusiaan dari Suriah

bantuan kemanusiaan fips1Oleh: Muhammad Pizaro
Sekjen Jurnalis Islam Bersatu

KAMIS (14/1/2016) warga Jakarta dikagetkan dengan aksi peledakan bom dan baku tembak di depan Pusat Perbelanjaan Sarinah, Jl. M.H Thamrin, Jakarta Pusat. Akibat peristiwa ini, 34 orang menjadi korban. Jumlah tersebut terdiri atas 26 korban luka serta delapan korban meninggal dunia. Untuk korban meninggal, satu nama terbaru yang meninggal adalah Rais yang sebelumnya mengalami koma selama dua hari.

Tentu kejadian ini menimbulkan keprihatinan bagi kita semua. Islam tidak membenarkan pemeluknya membunuh warga tidak berdosa. Selain karena menodai rasa kemanusiaan, serangan di Thamrin juga dapat menimbulkan stigma buruk terhadap umat Islam.

Dalam Islam, jihad menempati posisi yang mulia. Jihad dapat dilakukan ketika kaum muslim dilarang menjalankan ajaran agamanya, dakwah dihalangi, dan kaum muslimin diperangi. Maka, jika demikian, para pelaku patut mempertimbangkan masak-masak apakah kondisi di atas berlaku kepada kaum muslimin di Indonesia pada umumnya.

Jika pelaku ingin membawa arus perang di Suriah dalam konteks Indonesia hal itu juga kontraproduktif dengan aspirasi warga Suriah.

Saat penulis melakukan peliputan jurnalistik di Suriah, sikap yang ditunjukkan warga Suriah sangatlah ramah. Mereka berharap agar Indonesia, sebagai negara muslim terbesar di dunia, bisa menjadi “teman” di tengah “kesendirian” bangsa Suriah karena diamnya masyarakat dunia. Apalagi aspirasi yang selama ini disuarakan aktivis kemanusiaan seringkali tenggelam karena tertutupi pemberitaan ISIS.

Satu hal yang membuat penulis semakin haru ialah “kepedulian” yang justru ditunjukkan para warga terhadap bangsa Indonesia. Bahkan mereka mengatakan, “Meskipun kami tidak tahu di mana negara kalian dan tidak pernah menginjakkan kaki di negara kalian, ketahuilah dalam setiap shalat dan tahajud kami, kami tidak pernah lupa mendoakan warga Indonesia. Karena kami tidak ingin penderitaan yang kami alami, turut terjadi di negeri kalian,” ucapnya.

Untuk itu, kata mereka, hal yang paling terbaik dilakukan rakyat Indonesia dalam merespon krisis kemanusiaan di Suriah, bukan dengan pergi berperang ke Suriah, tetapi berkhidmat dalam isu kemanusiaan. Hal itu bisa dilakukan dengan cara menyadarkan kepedulian bangsa Indonesia atas nasib para pengungsi Suriah, sebagaimana termaktub dalam pembukaan UUD 1945.

“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.”

Karena itu, kecintaan mereka dicurahkan kepada para relawan dalam setiap aktivitas kemanusiaan. Di manapun, para relawan melakukan aktivitas, di situlah mereka selalu menemani. Semua itu dilakukan warga Suriah agar para relawan tidak lecet walau satu sentipun. “Karena kami ingin kalian tetap sehat ketika pulang ke Indonesia dan bisa menyampaikan pesan kami,” begitu alasan mereka.

Pesan ini lalu kami sampaikan bersama dengan Forum Indonesia Peduli Syam (FIPS) ketika bertemu dengan Wakil Menteri Luar Negeri, A.M Fachir di Kantor Kementerian Luar Negeri, beberapa waktu lalu. Mendengar laporan para relawan, Wamenlu mengungkapkan, sangat penting bagi pemerintah untuk membangun sinergi dengan lembaga kemanusiaan.

Sinergi dan kerjasama dalam bantuan kemanusiaan ini, menurutnya, perlu dilakukan, mengingat stigma negatif terkait ISIS yang selama ini melekat terhadap tragedi kemanusiaan di Suriah.

“Ada sekitar 4 juta pengungsi Suriah yang menyebar di Yordan, Lebanon, Turki dan Irak. Mereka sangat membutuhkan uluran tangan. Tetapi apa yang kita lakukan untuk mereka masih sangat kecil,” ujar diplomat alumni Pondok Pesantren Darussalam Gontor ini.

Menurut Fachir, pemerintah, dalam hal ini Kemenlu, memiliki pemikiran dan visi yang sama dengan lembaga kemanusiaan terkait bantuan kemanusiaan, khususnya untuk rakyat Suriah yang saat ini sangat membutuhkan pertolongan saudara-saudaranya.

“Kita (Kemenlu) juga punya pemikiran yang sama dalam memberikan bantuan kepada para pengungsi, termasuk rakyat Suriah,” ujarnya.

Untuk itu, semangat membantu kaum muslimin Suriah bisa dilakukan dengan banyak cara. Di sinilah, pemerintah memiliki peran penting untuk mendorong peran lembaga kemanusiaan. Sebab selain berfungsi sebagai penyambung tangan bangsa Indonesia kepada dunia internasional, lembaga kemanusiaan juga menjadi representasi dari wajah Indonesia dalam rangka melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Penulis melihat, salah satu pemicu terorisme adalah respon terhadap ketidakadilan global. Dengan menguatnya peran lembaga kemanusiaan, di samping peran ulama untuk mendudukkan pemahaman jihad secara benar, kita berharap para pelaku bisa berpikir jernih bahwa membantu saudaranya bisa dilakukan dengan banyak cara dan lebih solutif, salah satunya dengan memperkuat diplomasi kemanusiaan.

 

Dimuat di Harian NU Duta Masyarakat, Jum’at 22/1/2015

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *