Beranda / Ibroh / Madaya Menjerit, Masihkah Kita Diam

Madaya Menjerit, Masihkah Kita Diam

Oleh: Reny Istiqomah

Sekitar seratus pengungsi Suriah tanpa tempat tinggal terpaksa berlindung di tenda-tenda. Hal itu harus mereka jalani meski Provinsi Lattakia di Suriah sedang menghadapi musim salju.

Kondisi wilayah Madaya jauh lebih para. Sekitar 40.000 orang kelaparan akibat blokade yang dilakukan rezim dan milisi Hizbullah.

Akibat kondisi ini, warga Madaya terpaksa memakan kucing dan anjing, bahkan sampah dedaunan. Meski di Jenewa digelar perundingan damai di Suriah, keadaan warga Madaya tetap memburuk, korban demi korban terus berjatuhan.

Melihat kondisi Suriah yang sudah sedemikian parah masihkah kita diam? Di mana rasa kemanusiaan terhadap saudara kita? Padahal Islampun menyuruh menyembelih dengan cara yang baik, itu terhadap binatang.

Lantas kepada manusia, naluri mana yang masih menerima pembantaian anak manusia ini. Masihkah kita berdiam mendengar jeritan tangis anak anak di Suriah? Masihkah kita pura-pura tak melihat tumpahn darah dari luka korban pembantaian tersebut?

Mari bersikap adil, jika kita masih mempermasalahkan perbedaan bangsa. Sedangkan Allah telah menjadikan kita bersaudara tanpa terikat nasionalisme apapun.

Allah jadikan Islam sebagai ikatan terkuat di antara kita. Jika ada yang beralasan bahwa ini hanya konflik antara penguasa dan rakyat. Bukankah ia telah melihat bagaimana pembantaian itu terus berlangsung di tengah mereka.

Bagaimana perasaan kita jika di antara para mayat itu terdapat para mayat ibu kita, istri kita, atau anak anak kita. Padahal di antara mayat ada orang orang yang harus lebih kita sayangi dari keluarga kita, mereka adlah saudara saudara kita sesama muslim.

Bukan ukhuwah kita yang memudar, ukhuwah hanyalah pancaran dari iman. Iman kitalah yang melemah, yang menjadikan kita tak memiliki ikatan ukhuwah ini. Ia yang membuat kita hanya terfokus pada diri sendiri dan acuh pada masalah umat. Sedang Rasululloh mengingatkan,
“Barang siapa yang acuh terhadap urusan kaum muslimin maka ia bukan dari golongan mereka”(al hadits)

Mari pupuk kembali iman kita, agar kita mampu merasakan ikatan ukhuwah ini. Mari jadikan iman kita cahaya yang mampu memancar kedalam hati, sehingga tumbuhlah rasa ukhuwah kita terhadap sesama.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *