Beranda / Ibroh / Tanah yang Tidak Akan Pernah Dilepaskan

Tanah yang Tidak Akan Pernah Dilepaskan

Umat Islam Palestina, tidak akan pernah melepaskan Masjidil Aqsha ke tangan Yahudi. Walaupun nyawa menjadi taruhan, mereka akan melindungi Masjidil Aqsha hingga tetas darah terakhir.

4fe32a9df79890606edb56e2ec4ba50c8b7ee904

BUMISYAM | Saat ini diseluruh dunia, hanya Palestina lah negara satunya-satunya yang belum merasakan kemerdekaan. Hampir 46 tahun Palestina dijajah oleh zionis Israel dan hidup dalam lembah ketakutan. Dengan sadisnya Israel membumi hanguskan Palestina serta membunuh ratusan ribu warga sipil Palestina tanpa ada belas kasihan sedikitpun.

Serangan agresi militer Israel semakin membabi buta terhadap warga sipil Palestina. Sejak dimulainya serangan zionis Israel, sudah 2100 serangan udara terjadi dilangit Gaza, satu rudal, bom, roket, diluncurkan tiap beberapa menit.

Dalam serangan tersebut sudah 164 syuhada Gaza yang tewas, sedangkan 1092 warga lain cedera oleh serangan zionis Israel.

Serangan yang dilakukan zionis Israel seperti tidak ada habisnya. Berbagai aksi solidaritas untuk mengecam Israel dilakukan kaum Muslimin di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Seluruh dunia bertanya apa yang menyebabkan Israel tidak berhenti menjajah Palestina, jika Israel ingin diakui sebagai sebuah negara, maka sudah lama Israel telah diakui sebagai sebuah negara, namun penjajahan yang mereka lakukan terhadap palestina tidak juga pernah berhenti, jadi apa yang mereka inginkan?.

Bahkan pada tahun 2012 silam, zionis Israel mengusulkan pembagian wilayah geografis dengan Palestina .Salah satu usulan yang disampaikan secara lisan oleh utusan Israel, Yitzhak Molcho adalah permintaan agar pemukim Yahudi dapat tinggal di Tepi Barat dan wilayah pemukiman mereka menjadi bagian dari Israel. Mengapa zionis Israel bersikukuh untuk menguasai tanah Palestina?.

Keinginan Israel untuk menguasai Palestina tidak lain adalah untuk menghancurkan Masjid Al-Aqsha dan mendirikan kembali kuil Sulaiman diatas reruntuhan Masjid Al-Aqsha.

Kuil Sulaiman yang diyakini bangsa Yahudi dibuat oleh Nabi Sulaiman ‘Alaihi Salam, yang kemudian dihancurkan oleh bangsa Babylonia, kemudian mereka bangun kembali, dan dihancurkan lagi oleh bangsa Romawi. Dan hingga saat ini keinginan bangsa Yahudi untuk membangaun kembali kerajaan Sulaiman tetap tertanam kuat di hati mereka.

Yahudi mengklaim bahwa tempat berdirinya kuil Sulaiman berada di tanah berdirinya Masjid Al-Aqsha jadi tidak ada jalan untuk membangun kuil Sulaiman kecuali dengan menghancurkan Masjid Al-Aqsha.

Bagi kaum Zionis, kuil Sulaiman merupakan pusat dari dunia. Bukan Makkah, bukan pula Vatikan. Kuil Sulaiman-lah pusat seluruh kepercayaan dan pemerintahan segala bangsa. Keyakinan ini tidak berangkat tanpa landasan.

Dalam keyakinan Yudaisme yang sesungguhnya telah bergeser jauh dari Taurat yang dibawa oleh Musa ‘Alaihi Salam, bangsa Yahudi meyakini bahwa di suatu hari nanti seorang Messiah (The Christ) akan mengangkat derajat dan kedudukan bangsa Yahudi menjadi pemimpin dunia. Kehadiran Mesiah inilah yang menjadi inti dari semangat kaum Yahudi untuk memenuhi Tanah Palestina. Namun hal ini menjadi perdebatan utama di kalangan Yahudi yang pro-Zionis dengan yang anti-Zionis.

Bagi yang pro-Zionisme, mereka menganggap Kuil Sulaiman harus sudah berdiri untuk menyambut kedatangan Messiah (Dajjal) yang akan bertahta di atas singgasananya. Sedangkan bagi kaum Yahudi yang menolak Zionisme, bagi mereka, Messiah sendirilah yang akan datang dan memimpin pembangunan kembali kuil Sulaiman yang pada akhirnya diperuntukkan bagi pusat pemerintahan dunia (One World Order).

Maka Ketika gerakan Zionisme Internasional menyelenggarakan kongresnya yang pertama di Bassel, Swiss, tahun 1897, Yahudi tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini, Theodore Hertzl yang terkenal dengan julukan bapak Yahudi menyerukan agar semua Yahudi segera pergi menempati tanah Palestian yang disebutnya sebagai Tanah yang dijanjikan.

Namun Di sisi lain Masjid Al-Aqsha juga merupakan masjid suci ketiga umat Islam setelah Masjidil Haram, dan Masjid Nabawi, Masjid Al-Aqsha juga menjadi saksi atas peristiwa Isra’ Mi’raj Rasulullah, dimana Allah memberangkatkan Rasulullah pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjid Al-Aqsha dan menaikkan Rasulullah ke Sidhratul Muntaha (langit ke-7), pada peristiwa inilah perintah shalat untuk pertama kalinya turun dan Masjidil Aqsha menjadi kiblat pertama umat Islam sebelum Ka’bah.

Dari keyakinan dan cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya inilah umat Islam Palestina, tidak akan pernah melepaskan Masjidil Aqsha ke tangan Yahudi. Walaupun nyawa menjadi taruhan, mereka akan melindungi Masjidil Aqsha hingga tetas darah terakhir.

Masjidil Aqsha bukan hanya milik rakyat palestina, tapi milik semua manusia yang mengaku dirinya seorang Muslim. Pembebasannya adalah tanggung jawab seluruh kaum Muslimin, maka berharaplah agar kita yang menjadi salah satu yang membebaskan Masjid Al-Aqsha, masjid yang terdapat kemuliaan di dalamnya dari tangan bangsa Yahudi. ( Eka Aprila)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *