Beranda / Akhir Zaman / Tanda-Tanda Hari Kiamat, Menyerupai Orang-Orang Kafir

Tanda-Tanda Hari Kiamat, Menyerupai Orang-Orang Kafir

padang pasirKiamat menjadi sebuah akhir dari kehidupan manusia di dunia. Ia pasti terjadi, dan tak diragukan lagi kedatangannya. Namun, tak ada seorang pun yang mengetahui kapan masa itu akan tiba. Namun, Allah jelaskan tanda-tanda melalui kitabNya maupun lisan rasulNya. Salah satunya adalah banyaknya kaum muslimin yang mengikuti gaya hidup orang-orang kafir.

Sungguh telah menjadi sunatulloh, Allah jadikan pada setiap kaum ciri dan syi’ar tertentu. Termasuk pada agama ini, berbagai macam gaya hidup dan penampilan telah diatur dengan seksama. Sehingga ada batasa-batasan syariat yang harus dipenuhi setiap hamba. Termasuk didalamnya larangan mengikuti kebiasaan dan adat orang-orang kafir.
Sebagaimana dijelaskan dalam hadits yang diabadikan Imam Bukhori dalam Al Jami’ Ash Shohihnya, dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِى بِأَخْذِ الْقُرُونِ قَبْلَهَا ، شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ . فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَفَارِسَ وَالرُّومِ . فَقَالَ وَمَنِ النَّاسُ إِلاَّ أُولَئِكَ

“Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti jalan generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Lalu ada yang menanyakan pada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Apakah mereka itu mengikuti seperti Persia dan Romawi?” Beliau menjawab, “Selain mereka, lantas siapa lagi?“
Sedangkan dalam hadits lain disebutkan, dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ , قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ : فَمَنْ

“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang sempit sekalipun, -pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” (HR. Muslim no. 2669).

Di dalam kedua hadits tersebut, Allah telah jelaskan bagaimana tasyabuh (mengikuti orang-orang kafir) termasuk perkara yang dilarang. Sayangnya begitu banyak kaum muslimin yang terjerumus ke dalamnya. Dengan membawa kebanggaan tersendiri, seseorang berpenampilan layaknya orang-orang kafir, yang jauh dari kaedah syariat.

Dalam gaya berpakaian misalnya, banyak kaum muslimin yang tak lagi menyadari kelayakan pakaiannya dalam timbangan syariat. Masih begitu banyak kita temukan muslimah tak mau menutup aurotnya, dan justru mengikuti gaya berpakaian para artis dan semisalnya. Banyak pula yang berlabel syar’i namun jauh dari kaedah syar’i.

Dalam pola makan keseharian pun, banyak kaum muslimin yang berbangga diri bisa menikmati makanan barat.Meskipun belum jelas halal dan haramnya makanan tersebut. Padahal ada tetangganya sesama muslim yang menjual hasil olahan yang sama ia beli di restauran mereka.

Dalam memperingati hari raya pun, banyak kaum muslimin yang terjerumus ke dalam bentuk tasyabbuh yang satu ini. Kita ikut repot menyiapkan kado tahun baru, atau bahkan ikit mengucapkan selamat natal dan lain sebagainya. Padahal tak pernah kita dapati orang kristen yang turut dalam idul adha lalu menyembelih hewan kurban untuk kaum muslimin.

Demi terlihat modern, ada orang-orang yang ikut berpagi-pagi dengan berjalan-jalan dengan anjingnya. Padahal telah jelas jika anjing tersebut najis baginya. Sedang Rasulullah telah mengancam perbuatan tersebut dalam sebuah hadits, dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
من أمسك كلبا فإنه ينقص كل يوم من عمله قيراط إلا كلب حرث أو ماشية

“Barangsiapa memelihara anjing, maka amalan sholehnya akan berkurang setiap harinya sebesar satu qiroth (satu qiroth adalah sebesar gunung uhud), selain anjing untuk menjaga tanaman atau hewan ternak.”
Ibnu Sirin dan Abu Sholeh mengatakan dari Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,
إلا كلب غنم أو حرث أو صيد

“Selain anjing untuk menjaga hewan ternak, menjaga tanaman atau untuk berburu.”

Abu Hazim mengatakan dari Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كلب صيد أو ماشية
”Selain anjing untuk berburu atau anjing untuk menjaga hewan ternak.” (HR. Bukhari)

Maka seharusnya seorang muslim dalam meilih meletakkan teladan yang baik bagi dirinya. Karena teladan adalah bukti cinta. Bukan bentuk mengikut-ikuti biasa. Maka untuk apa kita mengikuti hal yang menyelisihi syariat dan tidak mendatangkan manfaat bagi kita. Sedangkan Rasulullah bersabda,

عن أنس رضي الله عنه أن رجلا سأل النبي صلى الله عليه وسلم عن الساعة فقال متى الساعة (وفي رواية: فقام النبي صلى الله عليه وسلم إلى الصلاة فلما قضى صلاته قال أين السائل عن قيام الساعة فقال الرجل أنا يا رسول الله) قال وماذا أعددت لها قال لا شيء (وفي رواية: ما أعْددْتُ لها من كثِيْرِ صلاةٍ ولا صومٍ ولا صدقةٍ) إلا أني أحب الله ورسوله صلى الله عليه وسلم فقال أنت مع من أحببْتَ (وفي رِوَايةٍ: قال أنس: وَنَحنُ كذلك؟ قَال: نعم. فَفَرِحْنَا يَوْمَئِذٍ فَرْحًا شَدِيْدَا) قال أنس فما فرحنا بشيء فرحنا بقول النبي صلى الله عليه وسلم أنت مع من أحببت )وفي رواية: فما رأيت فرح المسلمون بعد الإسلام فرحهم بهذا) قال أنس فأنا أحب النبي صلى الله عليه وسلم وأبا بكر وعمر وأرجو أن أكون معهم بِحُبِّيْ إياهم وإن لم أعمل بمثل أعمالهم

Dalam hadits Anas bin Malik disebutkan bahwasanya ada seorang arab badui bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hari kiamat seraya berkata, “Wahai Rasulullah, kapan hari kiamat?” (dalam riwayat yang lain: Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun sholat, kemudian tatkala beliau selesai dari sholatnya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Mana tadi orang yang bertanya tentang hari kiamat?”, orang itu menjawab, “Saya, ya Rasulullah!”)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Apakah yang engkau persiapkan untuk menemui hari kiamat?”, ia berkata, “Aku tidak menyiapkan apa-apa (dalam riwayat yang lain: “Aku tidak mempersiapkan diri untuk menemui hari kiamat dengan banyaknya sholat, puasa, dan sedekah” kecuali aku mencintai Allah dan RasulNya”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Sesungguhnya engkau bersama dengan orang yang engkau cintai” (Dalam riwayat yang lain: Anas berkata, “Lalu kami berkata, “Apakah kami juga demikian?”, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Ya” . Anas berkata, “Maka kamipun pada hari itu sangat gembira” (Dalam riwayat lain, Anas berkata, “Dan aku tidak pernah melihat kaum muslimin sangat gembira lebih daripada kegembiraan mereka pada saat itu”[8]). Anas berkata, “Kami tidak pernah gembira karena sesuatu apapun sebagaimana kegembiraan kami karena mendengar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “Engkau bersama yang engkau cintai”. Anas berkata, “Aku mencintai Nabi, Abu Bakar, dan Umar dan aku berharap aku (kelak dikumpulkan) bersama mereka meskipun aku tidak beramal sebagaimana amalan sholeh mereka” HR Bukhori Muslim.

Namun yang perlu digaris bawahi, tak semua kebiasaan orang kafir menjadi buruk bagi kita. Jika kebiasaan orang-orang kafir dalam hal-hal yang bukan menjadi syi’ar atau pembeda dari umat lainnya, maka tidak menjadi masalah kita mengikuti gaya hidup tersebut. Sebagaimana Rasulullah turut menggali parit saat perang khondaq atas saran Salman Al Farisi. Padahal adat ini adalah adat yang biasa dilakukan bangsa Persia. Namun tak menjadi masalah karna ia justru membawa kebaikan bagi kaum muslimin.(reny)

Disarikan dari “Nihayatul ‘alam” Syaikh Al Arify

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *