Beranda / Pojok Relawan / Muslim Suriah Merintih, Apa Reaksimu ?

Muslim Suriah Merintih, Apa Reaksimu ?

Sekitar 5 tahun yang lalu, rakyat Suriah menuntut hak mereka atas pemerintahan rezim yang telah berpuluh-puluh tahun lalu memimpin negeri tersebut secara tiran. Mereka melakukan aksi damai dengan turun ke jalan-jalan untuk menuntut turunnya Bashar Asad. Pergolakan ini muncul tidak lain karena kedzaliman rezim Asad yang amat bengis terhadap rakyatnya. Hafidz Asad, ayah dari Bashar Asad, sebelumnya telah berkuasa selama 30 tahun. Sedangkan sang putra, telah memimpin semenjak tahun 2000 silam. Namun respon mereka terhadap tuntutan rakyatnya sendiri sungguh menyedihkan. Rezim membalas aksi damai tersebut dengan serangan brutal dan bengis. Bashar terus menggunakan cara-cara tak manusiawi untuk mengahadapi  rakyatnya.

Korban demi korban terus berjatuhan. Setidaknya 500 ribu nyawa telah melayang di tangan rezim Asad dan para sekutunya. Walaupun gencatan senjata sempat diberlakukan,  September lalu SHRC melaporkan 1793 warga gugur, termasuk 306 anak-anak, 149 muslimah. Alepo menjadi wilayah dengan korban terbanyak, sementara wilayah lain seperti Idlib, Deir Zour, Damaskus, Hama , Homs juga tidak luput dari amukan bombardier dari tentara rezim Asad dan sekutunya.

Tak jauh berbeda, bulan ini pembantaian kaum muslimin itu tak pernah berhenti, meskipun wacana gencatan senjata terus didengungkan. Setidaknya dalam beberapa pekan terakhir ini lebih dari  50 nyawa warga Alepo melayang. Bahkan rezim mengutus para sniper untuk menembaki warga dan para relawan kemanusiaan yang mengevakuasi korban juga menjadi sasaran target penembakan. Kondisi ini mengakibatkan para anjing liar memakan jasad warga sipil yang terbunuh dan tidak terevakuasi.

Rezim dan para sekutunya tak henti-hentinya membuat makar bagi rakyatnya. Selalu saja berdalih memerangi teroris, ekstrimis, dan para pemberontak, dan tampil bak pahlawan bagi rakyatnya. Terakhir pada agustus silam mereka membuat perkumpulan para ulama’ suu’  yang menyatakan bahwa rezim Suriah tampil sebagai pahlawan membela rakyatnya dari kejahatan para ‘ekstrimis wahabi’. Namun seberapa hebat mereka membuat makar, tetaplah makar Allah yang lebih kuasa. Banyak ulama’ haqq yang menjelaskan kembali kepada umat tentang siapa sebenarnya rezim Asad ini.

Sungguh, ikatan yang mendasari persatuan Asad dan para sekutunya tak lebih dari persatuan dalam ikatan dunia dan kekusaan semata. Ada hal yang jauh lebih berharga dimiliki kaum muslimin. Ikatan Tauhid, Akidah yang menjadi ikatan terkuat telah mempersatukan hati kita dengan para kaum muslimin Suriah. Ikatan tauhid yang akan mendorong hati kita untuk membantu mereka dengan apapun yang mampu kita beri dari harta, jiwa dan doa tulus untuk saudara-saudara kita dari kelompok manapun mereka, selama mereka adalah kaum muslimin yang berkiblat sama dengan kita. Selama rukun islam dan rukun iman mereka sama dengan kita, meskipun mengambil jalan perjuangan yang berbeda dengan kita. Karena mereka adalah saudara kita yang berhak kita jaga dan lindungi.

Dalam sebuah  hadits riwayat Imam Bukhari, rasulullah bersabda; “Barang siapa shalat seperti kita, menghadap ke kiblat seperti kita, dan memakan binatang sembelihan kita, maka dialah muslim yang berada di bawah perlindungan Allah dan rasul-Nya, karena itu janganlah anda mengkhianati Allah perihal perlindunganNya itu.”

Jangan sampai berbagai makar musuh-musuh islam terus menerus membuat kita tertipu akan kondisi kita. Jangan sampai perbedaan di antara kita membuat kita terpecah dan tak mau peduli dengan saudara kita. Jika perpecahan terus terjadi, maka tunggulah para musuh yang akan bertepuk tangan bahagia menjadi penonton perseturuan kita. Karena muslim adalah satu tubuh, jika bagian tubuh sakit, maka bagian lain akan turut merasakan imbasnya. Rasulullah menjelaskan bahwa orang-orang muslim ibarat satu tubuh, bukan hanya asy’ari, wahabi atau gelar gelar lainnya yang sengaja di sematkan musuh islam. Allah menjelaskan dengan tegas,”sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara”. Ya, mereka saudara kita yang terdzalimi, dan mereka memanggil kita, sebagai saudara sesama mukmin. [Reny]

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *